Social Icons

ADRIANKJAVIC Blog's

Pages

Tampilkan postingan dengan label Tes Tanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tes Tanah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Oktober 2011

Pemeriksaan Kekuatan Tanah dengan Sondir (Dutch Cone Penetrometer)

PEMERIKSAAN KEKUATAN TANAH dengan SONDIR

( DUTCH CONE PENETROMETER )

    PENDAHULUAN

Penyondiran adalah proses pemasukan suatu batang tusuk ke dalam tanah, dengan bantuan manometer yang terdapat pada alat sondir tersebut kita dapat membaca atau mengetahui kekuatan suatu tanah pada kedalaman tertentu. Sehingga, dapat diketahui bahwa dari berbagai lapisan tanah memiliki kekuatan yang berbeda.

Penyelidikan dengan penyondiran disebut penetrasi, dan alat sondir yang biasa digunakan adalah Dutch Cone Penetrometer, yaitu suatu alat yang pemakaiannya ditekan secara langsung kedalam tanah. Ujung yang berbentuk konus ( kerucit ) dihubungkan pada suatu rangkaian stang dalam casing luar dengan bantuan suatu rangka dari besi dan dongkrak yang dijangkarkan ke dalam tanah.

Ada dua macam ujung penetrometer, yaitu :

a.       Standard Type ( mantel conus )

Pada jenis ini yang diukur adalah perlawanan pada ujung ( konus ), hal ini dilakukan hanya dengan menekan stang dalam yang segera menekan konus tersebut ke bawah sedangkan seluruh casing luar tetap di luar. Gaya yang dibutuhkan untuk menekan konus tersebut ke bawah diukur dengan suatu alat pengukur. Alat pengukur yang akan diletakkan pada kekuatan rangka didongkrak. Setelah dilakukan pengukuran,konus,stang dalam,dan casing luar dimajukan sampai pada kedalaman berikutnya dimana pengukuran selanjutnya dilakukan hanya dengan menekan stang dalamnya saja.

b.      Friction Sleeve ( Adhesion Jacket Type / Bikonus )

Pada jenis ini dapat diukur secara sekaligus nilai konus dan hambatan lekatnya. Hal ini dilakukan dengan penekanan stang dalam seperti biasa. Pembacaan nilai konus dan hambatan lekat dilakukan setiap 20 cm. Dengan alat sondir yang mungkin hanya mencapai pada kedalaman 30 cm atau lebih, bila tanah yang diselidiki adalah lunak. Alat ini sangat cocok di Indonesia, karena disini banyak dijumpai lapisan lempung yang dalam dengan kekuatan rendah sehingga tidak sulit menembusnya. Dan perlu diketahui bahwa nilai konus yang diperoleh tidak boleh disamakan dengan daya dukung tanah tersebut.

          

CARA PEMBACAAN MANOMETER pada ALAT SONDIR

            Setelah batang konus dimasukan pada kedalaman tertentu, pemutar sondir diputar sebanyak 5 kali. Pada saat itu dilihat pada jarum manometer terdapat dua nilai, nilai yang terbesar adalah jumlah perlawanan konus ( JPK ) dan nilai terkecil adalah perlawanan penetrasi konus ( PPK ).

·         Perlawanan penetrasi konus adalah perlawanan tanah terhadap ujung konus pada saat dilakukan penetrasi.

·         Jumlah perlawanan konus adalah perlawanan geser terhadap konus pada saat dilakukan penetrasi.

·         Hambatan lekat adalah perlawanan geser tanah terhadap selubung bikonus.

    TUJUAN PERCOBAAN

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui perlawanan penetrasi konus dan hambatan lekat tanah yang merupakan indikasi dari kekuatan tanah tersebut dan yang dapat menentukan dalamnya erbagai lapisan yang berbeda.

    Alat – Alat yang Digunakan

ü  Mesin sondir ringan kapasitas 2 Ton

ü  Seperangkat alat sondir lengkap dengan batang dalam dengan panjang 1m

ü  Angker

ü  Plat besi

ü  Konus dan bikonus

ü  Minyak hidraulic

ü  Manometer

ü  Kunci – unci pipa dan lain – lain.

    PROSEDUR PERCOBAAN

a)      Masukkan angker ke dalam tanah pada titik yang ditentukan, minimal dua buah.

b)      Pasang mesin sondir tepat diantara angker tersebut, kemudian stel sondir agar berdiri tegak lurus.

c)      Kunci mesin sondir pada angker dengan menggunakan plat besi.

d)     Isi minyak hidraulic pada tempat pemasangan manometer sampai penuh dan bebas dari udara ditandai dengan tidak ada gelembung udara lagi.

e)      Pasang bikonus pada ujung pipa pertama, kemudian pasang rangkaian tersebut pada mesin sondir.

f)       Tekan batang dengan cara memutar stang pemutar yang berhubungan dengan sisi yang menjalankan penekan stang luar untuk memasukan bikonus pada kedalaman yang yang akan disondir dengan memasang tri-ker.

g)      Tekanlah stang dalam untuk mencabut tri-ker sehingga ujung konus masuk sedalam 4 cm dan baca manometer sebagai perlawanan penetrasi konus (PPK). Penekanan selanjutnya akan menggerakkan konus beserta selubung sedalam 8 cm dan baca manometer sebagai jumlah perlawanan konus (JPK)

h)      Tekan pipa bersama batang sampai kedalaman yang akan diukur berikutnya. Pembacaan dilakukan setiap kedalaman 20 cm.

i)        Demikian selanjutnya hingga pembacaan perlawanan penetrasi konus (PPK) mencapai nilai 150 kg/cm2 sebanyak 3 kali.

j)        Lalu penyondiran dihentikan dengan mencabut kembali pipa sondir dengan memutar ke arah yang berlawanan.

CATATAN :

1.      Pekerjaan sondir ringan (2 Ton) dihentikan apabila pembacaan PPK ≥ 150 kg/cm2, sebanyak 3 kali berturut-turut atau penetrasi konus telah mencapai kedalaman 30m.

2.      Pekerjaan sondir berat (5 Ton) dihentikan apabila pembacaan PPK ≥ 500 kg/cm2sebanyak 3 kali berturut-turut atau penetrasi konus telah mencapai kedalaman 50 m.

KEUNTUNGAN DARI PENGGUNAAN ALAT SONDIR

ü  Baik untuk lapisan tanah lempung.

ü  Dapat dengan cepat menentukan lapisan tanah keras.

ü  Dapat memperkirakan pernedaan lapisan tanah.

ü  Mengetahui daya dukung tanah dengan rumus empiris.

ü  Baik digunakan untuk menentukan letak muka air tanah.

KEKURANGAN DARI PENGGUNAAN ALAT SONDIR

ü  Tidak cocok digunakan pada lapisan tanah berbutir kasar ( keras )

ü  Hasil penyondiran diragukan apabila letak alat tidak vertikal atau konus dan bikonus bekerja tidak baik.

Setiap penggunaan alat sondir harus dilakukan kalibrasi dan pemeriksaan perlengkapan antara lain :

Ø  Manometer yang digunakan masih dalam keadaan baik sesuai dengan standard yang berlaku.

Ø  Ukuran konus yang akan digunakan haus sesuai dengan ukuran standard  (d = 36 mm)

Ø  Jarum manometer harus menentukan awal nilai nol.

Ø  Dalam pembacaan harus hati – hati melihat apakh induk stang bor sudah ikut terkena, karena akan mempengaruhi pembacaan manometer.

Ø  Apabila alat sondir mulai terangkat,sedangkan tekanan manometer belum mencapai angka 150 kg/cm2 untuk sondir ringan dan 500 kg/cm2 untuk sondir berat,maka alat sondir harus diberi pemberat.

    PERHITUNGAN

a.       Hambatan Lekat ( HL ) dihitung dengan rumus :

HL = JPK – PPK

HL = ( JPK – PPK ) x  A / B

                  Dimana :    JPK = Jumlah Perlawanan Konus ( kg/cm2 )

                        PPK = Perlawanan Penetrasi Konus ( kg/cm2 )

                                      A    = Tahap Pembacaan ( setiap kedalaman 20 cm )

                                      B    = Faktor alat / Luas konus / Luas corak = 10 cm2

                                                (d = 3.6 cm " L = ¼ π d2 = 10,17 cm2)

b.      Jumlah Hambatan Lekat

                        JHL = ∑ HL

      Dimana : i = kedalaman yang dicapai konus

c.   Contoh Perhitungan Data :

      Pada Kedalaman 0,4 m, PPK = 5 kg/cm2

                                                       JPK = 15 kg/cm2

                Maka, HL = ( JPK – PPK ) x A/B

                                 = ( 15 – 5 ) x 20/10 = 20

                        Demikian seterusnya sampai kedalaman yang diinginkan untuk sondir. Hasil – hasil perhitungan dapat dilihat pada lembar data. Kemudian dari hasil penggambaran grafik dapat dilihat dimana kia – kira tanah keras berada.

    PELAPORAN

Lokasi titik sondir = Lapangan Sepak Bola Teknik Sipil USU.

Grafik = Perlawanan Penetrasi Konus terhadap kedalaman dan Jumlah Hambatan Lekat terhadap kedalaman

    KESIMPULAN

a)      Dari hasil percobaan terlihat bahwa perlawanan penetrasi konus bervariasi menurut kedalaman tertentu.

b)      Dari grafik hasil sondir dapat terlihat bahwa terdapat lapisan tanah dimana kekuatan perlawanan konusnya tidak sama,

c)      Dari percobaan diketahui bahwa Perlawanan Penetrasi Konus terbesar pada kedalaman 5,60 meter,dengan :

PPK = 195 kg/cm2 dan JPK = 882 kg/cm2.

    Aplikasi Data Percobaan

      Data dari hasil sondir dapat dipergunakan untuk menghitung daya dukung suatu pondasi yang dipasang pada tanah pada saat perencanaan pondasi sehingga dapat ditentukan jenis tanah yang cocok untuk dipergunakan :

*      Untuk Pondasi Dangkal

Pondasi dangkal atau pondasi biasa digunakan apabila data sondir tersebut menujukan bahwa pada kedalaman tersebut tanah mempunyai daya dukung yang baik. Misal pada kedalaman 1m, besar perlawanan konus 35 kg/cm. Maka pada pondasi dipasang dengan kedalaman 1m, bentuk serta ukurannya direncanakan dengan baik sehingga bebab dapat dipikul dengan baik.

*      Untuk Pondasi Tiang Pancang

Data hasil percobaan sondir dapat dipublikasikan juga untuk perencanaannya. Daya dukung tiang pancang dapat didukung dengan perhitungan, yaitu menganggap perlawanan terhadap ujung tiang dengan tanah adalah sama dengan nilai sondir, yaitu nilai Perlawanan Penetrasi Konus (PPK) dan Jumlah Hambatan Lekat (JHL). Daya dukung keseimbangan untuk tiang pancang ( P ) dihitung dengan rumus :

                                    P = Qc x A + F x O

Dimana : Qc = nilai Perlawanan Penetrasi Konus (PPK) (kg/cm2)

                A  = Luas Penampang Tiang Pancang (cm2)

                F  = Jumlah Hambatan Lekat (JHL) selubung konus (kg/cm2 )

            O = keliling penampang tiang pancang (cm)

Daya dukung yang diizinkan dihitung dengan rumus :

            Qi = ­(Qc x A)/3 + (F x O)/5

Catatan :

            Dalam pembacaan pada percobaan sondir, yang dimaksud dengan 20/10 adalahj :

            20 F Pembacaan dilakukan setiap kedalaman ( cm )

                                    10 F Faktor alat / Luas konus / Luas corak = 10 cm2

                                                (d = 3.6 cm " L = ¼ π d2 = 10,17 cm2)

Uji Berat Jenis (Specific Gravity Test)

  I.      PENDAHULUAN
Berat jenis (specific gravity) tanah adalah angka perbandingan antara berat isi butir tanah dengan berat isi air suling pada volume yang sama dan suhu tertentu.
Berat jenis tanah sangat penting diketahui yang selanjutnya digunakan dalam perhitungan - perhitungan mekanika tanah.

          II.      TUJUAN
Mengetahui berat jenis tanah disturbed yang lolos saringan no.40 dan tanah undisturbed dengan menggunakan piknometer.

       III.      PERALATAN
1.      6 buah piknometer kapasitas 50 ml.
2.      Oven yang dilengkapi pengatur suhu untuk memanasi hingga 115° C.
3.      Neraca dengan ketelitian 0.01 gr.
4.      Thermometer ukuran 0 - 100° C dengan ketelitian 1° C.
5.      Saringan no.40
6.      Botol berisi aquades.
7.      Kompor.
8.      Bak perendam.

       IV.      BENDA UJI
Benda uji diambil dari lapangan sepak bola Teknik Sipil USU. Benda uji pada percobaan ini dibagi atas 2 bagian, yaitu :
·         Benda uji tanah tidak terganggu (undisturbed soil) hasil pengeboran.
·         Benda uji tanah terganggu (disturbed soil).
Kedua benda uji tersebut merupakan hasil pengambilan sampel tanah 9soil sampling).



          V.      PROSEDUR
1.      Sampel tanah disturbed dan undisturbed disiapkan
2.      gumpalan – gumpalan tanah disturbed ditumbuk agar butiran tanah terlepas sehingga dapat disaring pada saringan no.40
3.      sampel tanah dikeringkan dalam oven suhu 110° C selama 24 jam lalu dianginkan.
4.      Cuci piknometer dan keringkan.
5.      Timbang peknometer dan tutupnya lalu timbang sebagai W1.
6.      Masukkan benda uji ke dalam piknometer hingga mencapai 1/3 volume,lalu timbang dan catat sebagai W2.
7.      Tambahkan air ke dalam piknometer sebanyak 1/3 volume sehingga isi piknometer menjadi 2/3 bagian.
8.      Didihkan piknometer di kompor untuk mengeluarkan udara yang terjebak di dalamnya, kemudian angkat.
9.      Rendam piknometer dalam wadah/bak rendaman selama 24 jam.
10.  Ukur suhu rendaman air dengan termometer.
11.  Akibat perendaman, air dalam piknometer akan berkurang, tambahkan air kembali hingga posisi 2/3 volume piknometer.
12.  Keringkan bagian luar piknometer dan timbang kemudian catat sebagai W3.
13.  Keluarkan isi piknometer, lalu bersihkan.
14.  Isi piknometer dengan aquades hingga 2/3 volume piknometer kemudian catat sebagai W4.

       VI.      PERHITUNGAN
Berat jenis tanah (GS) dapat dihitung dengan rumus :
GS = ( W2 – W1 )/ ( W4-W1 ) – ( W3-W2 )
Dimana :
W1 = berat piknometer (gr)
W2 = berat piknometer + tanah (gr)
W3 = berat piknometer + tanah + air (gr)
W4 = berat piknometer + air pada temperatur (T° C) (gr)



Faktor koreksi pada suhu dapat dilihat pada tabel berikut :

T° C
k
25
1.0000
26
0.9997
27
0.9995
28
0.9992
29
0.9989
30
0.9986
31
0.9983

Deskripsi tanah berdasarkan berat jenis tanah
Jenis Tanah
GS
Kerikil
2.65 - 2.68
Pasir
2.65 – 2.68
Lempung tak berorganik
2.62 – 2.65
Lanau
2.65 – 2.68
Lanau tak berorganik
2.68 – 2.72
Lempung berorganik
2.58 – 2.66

Cone Penetrometer

I.                   Pendahuluan

Pengujian dengan alat cone penetrometer ini pada dasarnya sama dengan dutch cone penetrometer (penyonduan), dimana ujung bonus ditekan ke tanah dengan kecepatan konetan. Perbedaannya adalah cone penetrometer ini mempunyai ukuran mini (kecil) dan hanya dapat menghitung perlawanan ujung (konus) saja. Sesuai dengan kemampuannya alat uji ini biasanya digunakan untuk mendapatkan lapisan permukaan saja misalnya pemeriksaan kekuatan untuk mendapatkan besarnya kekuatan tanah timbunan pada pembuatan jalan. Alat ini dipakai pada pekerjaan tanah karena mudah dipindahkan pada semua titik yang diinginkan tetapi letak lapisan yang akan diperiksa tidak sedalam pemeriksaan alat condir.
Hasil yang akan diperoleh pada percobaan ini dapat dihubungkan dengan nilai CBR (pembanding antara beban penetrasi dengan suatu lapisan tanah atau perkerasan terhadap bahan standar dengan kedalaman dan kecepatan penetrasi lama). Nilai CBR yang diperoleh dipakai untuk menentukan tebal lapisan perkerasan. Semakin besar CBR yang diperoleh dari dasar tanah semakin tebal perkerasan yang dibutuhkan dan sebaliknya. Tebal perkerasan yang ditentukan oleh besarnya muatan roda dan intensitas lalu lintas.

II.                Tujuan
Untuk mencari nilai maksimum berat isi kering dari grafik hubungan berat isi kering dengan kadar air dari suatu tanah atau untuk mengetahui harga CBR langsung di lapangan pada kedalaman tertentu, dengan menggunakan alat cone penetrometer.

III.             Peralatan
a.       Cone penetrometer
Proving ring lengkap dengan arloji pembacaan, 0 – 250.
b.      Perlengkapan alat menggali seperti cangkul.
c.       Mistar untuk mengukur jarak dari titik ke titik.
d.      Sebuah konus pada ujung batang.
e.       Batang dengan diameter tertentu dan mempunyai jarak yang tertentu indah ditandai.

IV.             Prosedur Percobaan
a.       Tanah yang diperlukan dibersihkan dari rumput dan diratakan, usahakan agar tanah asli tidak terganggu.
b.      Periksa semua sambungan-sambungan cone penetrometer dan kencangkan.
c.       Tempatkan ujung konus cone penetrometer pada tanah yang telah dibersihkan dengan posisi tegak lurus.
d.      Cone penetrometer ditekan ke bawah dengan gerakan konetan ± 25 mm/detik sampai batas kedalaman nol pada batang proving ring ditekan menjadi tepat di angka nol.
e.       Baca jarum arloji pada saat konus memasuki tanah atau pada kedalaman yang telah ditentukan. 0;2 ; 5 ; 7,5 ; 15 ; 22,5 ; 30 ; 37,5 ; 52,5
f.       Pekerjaan ini dilakukan paling sedikit 3 titik yang berlainan dan setiap titik berjarak ± 30 cm satu sama lainnya (membentuk segitiga sama sisi).

V.                Perhitungan
  • Menentukan rata-rata pembacaan ketiga titik percobaan pada kedalaman yang sama.
  • Menentukan CBR yang diperoleh (melihat grafik).

Grafik I:
Pembacaan cone penetrometer dengan harga CBR. Tariklah garis dengan angka pembacaan rata-rata pada grafik sampai kena garis lengkung dan tariklah garis horizontal dari garis lengkung hingga mendapat harga CBR-nya.

Grafik II:
Harga CBR dengan tebal garis lapis lengkung dukung dari harga CBR yang diperoleh, tariklah garis horizontal dari garis lengkung sehingga mendapat harga tebal teoritis.

  • Tebal lapisan penutup = tebal teoritis – kedalaman
  • Dari tebal lapisan penutup yang kita peroleh, tariklah garis vertikal pada grafik II maka hanya CBR yang kita perlukan dapat kita ketahui.


Penggunaan cone penetrometer dan hubungannya dengan harga CBR
            Cone penetrometer adalah alat yang berfungsi untuk menentukan harga CBR dari suatu lapisan tanah, yang merupakan ukuran kekuatan tanah tersebut. Prinsip dari system CBR ini adalah:
Perkerasan dari batu pecah yang berbutir rapat kekuatannya dimulai dari 100%. Sedangkan lumpur dinilai dengan 0%. Kemudian diadakan nilai untuk berbagai jenis tanah dan perkerasan. Hanya CBR suatu lapisan tanah perlu diketahui terlebih dahulu, sebelum di atas lapisan tanah tersebut dilaksanakan pekerjaan sipil seperti pembuatan perkerasan. Dalam pekerjaan seperti ini hanya CBR diperlukan untuk menentukan tebalnya lapisan pekerjaan.

VI.             Kesimpulan
Cone penetrometer merupakan alat sederhana dalam pengoperasian untuk menentukan nilai CBR.
Hanya CBR yang diambil (CBR dengan)

DYNAMIC CONE PENETROMETER (DCP)


 I.                   Pendahuluan

Pengujian dengan alat Dynamic Cone Penetrometer (DCP) ini pada dasarnya sama dengan cone penetrometer (CP) yaitu sama-sama mencari nilai CBR dari suatu lapisan tanah langsung di lapangan. Hanya saja pada alat Cone Penetrometer dilengakapi dengan poving ring dan arloji pembacaan, sedangkan pada alat Dynamic Cone Penetrometer adalah melalui ukuran(satuan) dengan menggunakan mistar.

Percobaan dengan alat cone penetrometer digunakan untuk mengetahui CBR tanah asli. Sedangkan percobaan alat dengan DCP ini hanya untuk mendapat kekuatan tanah timbunan pada pembuatan badan jalan, alat ini dipakai pada pekerjaan tanah karena mudah dipindahkan ke semua titik yang diperlukan tetapi letak lapisan yang diperiksa tidak sedalam pemeriksaan tanah dengan alat sondir.

Hasil yang diperoleh pada percobaan ini dapat dihubungkan dengan nilai CBR (perbandingan antara beban penetrasi suatu lapisan tanah atau perkerasan terhadap beban standart dengan kedalaman dan kecepatan penetrasi yang sama)







II.                Tujuan Percobaan


Percobaan ini dilakukan untuk menentukan nilai CBR langsung dilapangan pada kedalaman tertentu dengan menggunakan alat dynamic cone penetrometer.


III.             Peralatan

Peralatan yang digunakan pada percobaan ini adalah:

a.       Dynamic Cone Penetrometer
- batang alat dengan tinggi

b.      Perlengkapan alat menggali: cangkul, sendok
c.       Mistar untuk mengukur kedalaman masuknya alat (penetrasi)



IV.             Prosedur Pelaksanaan

a.       Areal yang akan diperiksa dari rumput dan diratakan, usahakan untuk mendapatkan tanah asli jangan sampai terganggu.
b.      Periksa sambungan DCP dan kencangkan.
c.       Tempatkan ujung DCP pada permukaan tanah dalam keadaan tegak lurus.
d.      Baca mistar berapa kedalaman masuknya alat dari muka tanah.
e.       Angkat palu pada ketinggian maksimum. Kemudian lepaskan sehingga jatuh bebas. Baca dengan mistar berapa kedalamannya.
f.       Lakukan pemukulan sampai penetrasi 90 cm atau 30X tumbuhan.



V.                Perhitungan dan Grafik

A.                                                                                              Perhitungan
Proses perhitungannya adalah:
-          Menghitung besar penetrasi tiap tumbuhan
-          Menentukan CBR yang diperoleh yaitu dengan melihat grafik CBR standard.

  1. Grafik
Proses pembuatan grafiknya:
-          Buat koordinat titik sesuai dengan jumlah tumbuhan kumulatif pada arah horizontal dan kedalaman penetrasi pada arah tersebut.
-          Hubungkan titik-titik tersebut pada grafik sehingga akan membentuk arah garis lurus yang memiliki keseluruhan titik-titik tersebut.
-          Bandingkan dengan grafik CBR standar sehingga didapat harga CBR.

VI.             Aplikasi
a.       Untuk merencanakan tebal perkerasan jalan raya.
b.      Untuk menilai kekuatan tanah dasar (eub grade) pada tanah bagi pembuatan perkerasan.
c.       Untuk mengetahui kadar air yang mungkin terjadi setelah perkerasan selesai dibuat.



VII.          Kesimpulan
Dari percobaan di atas dapat ditarik kesimpulan:
a.       Dynamic Cone Penetrometer merupakan alat yang sederhana dalam pengoprasiannya untuk mendapatkan harga CBR.
b.      Dari Dynamic Cone Penetrometer ini dapat diketahui nilai CBR langsung lapangan melalui grafik standar yang ada.
c.       Dari percobaan ini harga CBR yang diperoleh: 21,48%

Aplikasi
            Perencanaan tebal perkerasan adalah dasar dalam menentukan tebal perkerasan lentur yang dibutuhkan untuk suatu jalan raya. Pada perkerasan jalan perlu diperhatikan kekuatannnya dalam memikul kendaraan-kendaraan yang memakai perkerasan jalan tersebut. Dan juga pengaruh dari gesekan roda-roda kendaraan tersebut serta pengaruh air dan hujan.
            Bagian perkerasan jalan umumnya meliputi: lapisan fondasi bawah (rub base came), lapisan fondasi (base came) dan lapisan permukaan (surface came).
  1. Daya dukung tanah dasar (DDT).
Daya dukung tanah dasar ditetapkan berdasarkan grafik korelasi. Dengan diperolehnya harga CBR, maka dengan dihubungkan dengan grafik tersebut maka akan diperoleh DDT.
  1. Lapisan fondasi bawah
Fungsi lapisan fondasi ini adalah antara lain:
-          Sebagai bagian dari kontsruksi perkerasan untuk mendukung dan menyebarkan beban roda.
-          Untuk mencegah tanah dasar masuk ke dalam lapisan fondasi, dst.

Sehubungan dengan terlalu lemahnya daya dukung tanah dasar terhadap roda-roda alat-alat besar atau karena kondisi lapangan yang memaksa harus segera menutup tanah dasar dari pengaruh cuaca. Bermacam-macam tipe tanah setempat (CBR ≥ 20%, PI ≤ 10%) yang relatif lebih baik dari tanah dasar dapat digunakan sebagai bahan fondasi tanah.
  1. Lapisan fondasi
Bahan alam/bahan setempat (CBR ≥ 50%, PI ≤ 4%) dapat digunakan sebagai bahan lapis fondasi antara lain: batu pecah, kerikil pecah dan etabilitas tanah dengan semen atau kapur.
  1. Lapisan permukaan
Bahan untuk lapisan permukaan pada umumnya sama dengan untuk lapis fondasi dengan persyaratan yang lebih tinggi.
Maka, nilai CBR digunakan untuk menilai kekuatan yang juga dipakai dasar untuk penentuan tebal lapisan dari suatu perkerasan.
Contoh perhitungan:
a.       Untuk 0 tumbuhan, pembacaan mistar 100 cm, penetrasi 0 cm.
b.      Untuk 1 tumbuhan, pembacaan mistar 99,4 cm, penetrasi (100 – 99,4) = 0,6 cm.
c.       Untuk 2 tumbuhan, pembacaan mistar 98,5 cm, penetrasi (100 – 98,5) = 1,5 cm.
d.      Untuk 3 tumbuhan, pembacaan mistar 97,7 cm, penetrasi (100 – 97,7) = 2,3 cm.
e.       Untuk 4 tumbuhan, pembacaan mistar 96,5 cm, penetrasi (100 – 96,5) = 3,5 cm.